Artikel Tema Gizi
Nama : Mirsa Dellatifah
NIM: 25104544
PRODI : S1 Gizi
Fakultas: Fakultas Kesehatan
Evaluasi Nilai Gizi Mineral (Fe, Zn Dan Ca) Pada Pangan Dengan Penambahan Tepung Ikan Melalui Analisis Bioavaibilitas : Literature Review
Penulis : Sarmarina Sitanggang*, Bestari Hasibuan, Cindra Emilia Pane, Dwi Septi Lennia Girsang, Indri Jayantri Saragih, Ninda Sari,
ABSTRAK
Pada masa ini banyak inovasi fortifikasi yang mengandung mineral dalam rangka
memperbaiki dan memenuhi kebutuhan mineral di masyarakat seperti pembuatan jenis
tepung dari ikan. Penggunaan ikan sebagai tepung diharapkan mampu menjadi solusi
penyumbang kalsium, zink serta Fe. Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan. Balita dengan gizi kurang dengan kadar albumin
darah yang rendah, juga menderita defisiensi gizi mikro seperti Zn dan Fe. Tujuan tinjauan
pustaka ini adalah untuk mengetahui pemafaatan tepung berbahan ikan menjadi sebuah
inovasi pangan yang dapat meningkatkan kadar mineral dalam tubuh terutama Zat Besi
(Fe) dan Kalsium (Ca) yang kemudian dianalisis untuk mengetahui bioavailabilitasnya
terhadap tubuh manusia. Berdasarkan hasil tinjauan pustaka, bioavailibiltas terbaik yaitu
substitusi tepung ikan gabus dan fortifikasi Fe dan Zn tertinggi adalah sebesar 50%,
kalsium pada tepung tulang ikan tuna dengan perlakuan 2 jam lama waktu autoclaving dan
3 kali perebusan, crackers dengan tepung ikan lele dumbo sebanyak 12,5 dan jagung dengan
perendaman selama 12 jam menggunakan asam sitrat dan enzim fitase.
PENDAHULUAN
Mineral merupakan zat gizi mikro
yang kebutuhannya di dalam tubuh
menempati 0,01% atau 100 ppm dari bobot
tubuh. Manfaat mineral sangat berperan
terhadap sistem tubuh yang jika terjadi
defisiensi dalam menu makanan akan
menyebabkan terjadinya fungsi biologis
yang sub-optimal. Berbagai jenis mineral
makro maupun mikro sangat berperan
penting dalam status kesehatan seseorang.
Pada masa ini banyak inovasi fortifikasi
yang mengandung mineral dalam rangka
memperbaiki
sekaligus
memenuhi
kebutuhan mineral di masyarakat seperti
pembuatan jenis tepung dari ikan.
Penggunaan ikan sebagai tepung
diharapkan
mampu menjadi solusi
penyumbang kalsium, zink serta Fe .
Kekurangan
kalsium
pada
masa
pertumbuhan dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan seperti tulang kurang kuat,
mudah bengkok dan rapuh atau pada orang
dewasa biasa disebut osteoporosis. banyak
balita dengan gizi kurang, yang mempunyai
kadar albumin darah yang rendah serta
menderita defisiensi gizi mikro, antara lain
Zn dan Fe. Tepung dari ikan ini kemudian
akan dicampurkan kedalam olahan seperti
crakers, biskuit. Jenis ikan yang biasa
digunakan oleh para peneliti dalam
pembuatan tepung ikan adalah ikan lele
dumbo, ikan gabus, ikan tuna. Pembuatan
tepung dari jenis ikan ini selain memiliki
tujuan penyumbang mineral yang tinggi juga mengurangi limbah ikan, bagian ikan
yang digunakan yaitu kepala serta tulang
ikan.
Penelitian yang dilakukan oleh
Purwaningsih (2011) menjelaskan bahwa
pemanfaatan tepung dari limbah kepala ikan
lele dumbo menjadi crakers menjadi
alternatif sumber kalsium, inovasi crakers
menggunakan 2 kepala lele dumbo menjadi
tepung mengandung 239,2 mg kalsium per
sajian (44 g) yang dapat berkontribusi
terhadap kebutuhan kalsium remaja, dan
dewasa berturut- turut sebesar 24%, dan
30%. Selain penggunaan ikan lele dumbo
dalam penyumbang kalsium penelitian yang
dilakukan oleh Trilaksani Dewi (2006)
bahwa tulang ikan tuna mengandung
kalsium terbanyak diantara bagian tubuh
ikan, karena unsur utama dari tulang ikan
adalah kalsium, fosfor dan karbonat. Ikan
tuna merupakan komoditas perikanan
Indonesia yang banyak menghasilkan devisa
(terbesar kedua setelah udang). Substitusi
biskuit dengan penambahan tepung ikan
gabus yang difortifikasi menggunakan Zink
dan Fe dapat menjadi pilihan untuk
digunakan sebagai makanan tambahan balita
gizi kurang (Sari Dewi,et al. 2014).
Penambahan tepung ikan dalam
produk pangan harus disertai dengan
pengetahuan akan ketersediaan biologisnya
(bioavailabilitas)
karena
kandungan
kalsium, zink, Fe yang tinggi dalam suatu
produk belum menjamin bahwa akan diserap
oleh tubuh yang tinggi pula. Jika bioavailabilitasnya rendah maka yang
diserap oleh tubuh pun menjadi rendah
(Puspita
2003). Ketersediaan biologis
(bioavailabilitas) dapat diartikan sebagai
jumlah mineral dalam bahan pangan yang
dapat diserap dan dipergunakan oleh tubuh.
Bioavailabilitas kalsium dapat dianalisis
dengan metode in vivo maupun in vitro.
METODE
Penelitian ini merupakan literature
review dengan metode naratif yang
membahas dan menganalisis hasil penelitian
sebelumnya mengenai evaluasi nilai gizi
mineral zat besi (Fe) dan kalsium (Ca) pada
beberapa bahan pangan tepung berbahan
dasar ikan melalui analisis bioavailabilitas
dari pencarian literatur nasional dan
internasional
dengan
database
menggunakan
Google Cendekia (Google
Scholar).
Langkah pertama pencarian artikel
jurnal ini yaitu rentang tahun 2010- 2021,
sebanyak 19.500 artikel yang muncul
dengan kata kunci “Bioavailability, in vitro,
mineral “, kemudian artikel yang muncul
dengan kata kunci “Bioavailabilitas,
mineral, kalsium” ada sebanyak 17.200
artikel, dan 1.030 artikel muncul dengan
kata kunci “ Bioavailabilitas, mineral, zat
besi”. Selain itu, adapun kriteria pustaka
yang dipilih juga berdasarkan metode
penelitiannya. Metode penelitian yang
dipilih untuk digunakan dalam studi ini
adalah metode deskriptif dan eksperimen yang di uji secara in vitro di laboratorium
dan selain uji in vitro eksperimen juga diuji
cobakan pada manusia dan hewan.
Dari semua jurnal tersebut hanya ada
sekitar 40 artikel yang dianggap relevan dan
dari jumlah tersebut hanya ada 4 artikel
jurnal, 1 skripsi dan 1 buku yang memiliki
kriteria penuh atau cocok dijadikan sebagai
referensi. Analisis yang dipakai dalam
artikel terpilih yaitu secara deskriptif
kuantitatif.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan kajian terhadap analisis
bioavailabilitas mineral pada beberapa
produk pangan, maka ditemukan sebanyak 5
literatur
yang layak untuk dianalisis
diantaranya adalah 4 jurnal, 1 skripsi dan 1
buku. Hasil penelitian pada literatur terpilih
adalah jurnal dan skripsi dengan kriteria hasil
penelitian pada beberapa bahan pangan
tepung dari ikan untuk menentukan
bioavailabilitas mineral yang terkandung
pada pangan tersebut. Mineral yang
dianalisis adalah Zat Besi (Fe) dan Kalsium
(Ca). Hasil tersebut dirangkum pada tabel 1.
Hasil penelitian di atas membahas
tentang metode analisis bioavailabilitas zat
besi (Fe) dan Kalsium (Ca) dan hasilnya
pada beberapa produk tepung berbahan
dasar ikan sebagai sumber mineral bagi
tubuh
Tabel 1. Evaluasi nilai gizi Zat Besi dan Kalsium pada bahan pangan Tepung dari ikan
dan pangan jagung (sumber mineral nabati)
No. Penulis,
Tahun Jurnal
/ buku
Nama
Produk
Pangan
Analisis Bioavailabilitas Fe dan
Ca
Nilai Bioavailabilitas pada
produk
1
Sari dkk.,
2014
Biskuit
substitusi
tepung
ikan gabus - Analisis bioavailabilitas dibuat
berdasarkan empat perlakukan
substitusi tepung ikan gabus
dan fortifikasi Zn dan Fe yang
berbeda terhadap pembuatan
biskuit dengan dosis 0, 25, 50,
dan 100 % AKG/service size
dengan berat per keping biskuit
adalah 60 gr.
Hasil biskuit dilanjutkan dengan
pengujian bioavailabilitas mineral
Fe dan Zn pada formula dengan
substitusi tepung ikan gabus dan
mineral dengan dosis sebesar 25,
50 dan 100%. - Dari hasil analisis
bioavailabilitas mineral berupa
Zat besi (Fe) dan Zink (Zn)
pada biskuit dengan substitusi
tepung ikan gabus
menunjukkan bahwa nilai
bioavailabilitas Fe dan Zn pada
formula dengan substitusi
sebesar 50% memiliki tingkat
bioavailabilitas paling tinggi
yakni Zat besi (Fe) sebesar
76,32% dan untuk Zink (Zn)
memiliki nilai bioavailabilitas
sebesar 41,80%.
Hasil analisis nilai
bioavailabilitas pada
formula biskuit adalah: - Formula dengan substitusi
tepung ikan gabus dan
fortifikasii Fe dan Zn
sebanyak 25% memiliki
bioavailabilitas sebesar
55,85 untuk Fe dan 44,71
untuk Zn. - Formula dengan substitusi
tepung ikan gabus dan
fortifikasi Fe dan Zn
sebanyak 50% memiliki
bioavailabilitas sebesar
76,32 untuk Fe dan 41,80
Zn. - Formula dengan substitusi
tepung ikan gabus dan
difortifikasi
Trilaksani,
dkk, 2006
Tepung
tulang
ikan Tuna
Pengukuran bioavailabilitas hanya
dilakukan pada tepung yang
memiliki kadar kalsium paling
tinggi (39,24 %), yaitu tepung
tulang A2P3 dengan perlakuan 2
jam lama waktu autoclaving dan 3
kali perebusan.
Berdasarkan hasil analisis
yang dilakukan, persentase
penyerapan tepung kalsium
tulang ikan yang diperoleh
sebesar 0,86 % atau 337,46
mg/100 g tepung tulang
ikan.
Purwaningsih
2011
Crackers
dengan
tepung
ikan Lele
Dumbo
Analisis pengaruh dan
pengelompokan jenis crackers
terhadap bioavailabilitas kalsium
(%) dilakukan dengan 3 jenis
crackers yaitu crackers kontrol,
crackers dengan tepung kepala
ikan lele dumbo sebanyak 12,5 g,
dan crackers komersial high
calcium original .
Berdasarkan hasil analisis
menunjukkan bahwa
bioavailabilitas kalsium
Crackers kontrol yaitu
17.40% termasuk kelompok
sedang, crackers dengan
tepung kepala ikan lele
dumbo sebanyak 12,5 g
yaitu 14.53% termasuk
kelompok sedang dan
crackers komersial high
calcium original (8%)
termasuk kelompok rendah No. Penulis,
Tahun Jurnal
/ buku
Nama
Produk
Pangan
Analisis Bioavailabilitas Fe dan
Ca
Nilai Bioavailabilitas pada
produk
4
Kurniawati.,
2021
Jagung
Metode analisis bioavailabilitas
pada jagung dilakukan secara in
vitro terhadap dua jenis perlakuan
yakni jagung dengan proses
perendaman dalam asam sitrat
sebanyak 9% dalam waktu 12 jam
ditambah dengan enzim fitase 250
μl/50 ml dan jagung tanpa proses
perendaman sebagai faktor
kontrol. Penentuan nilai
bioavailabilitas kalsium pada
jagung adalah dengan simulasi
kondisi gastrointestinal pada
sistem pencernaan manusia
dengan pH disesuaikan pada
keadaan di usus halus. - Hasil analisis diperoleh
nilai bioavailabilitas
kalsium (Ca) pada nilai
signifikan (p > 0.05). - Hasil simulasi in vitro
menunjukkan bahwa pada
jagung dengan perlakuan
perendaman selama 12
jam menggunakan asam
sitrat dan enzim fitase
memiliki bioavailabilitas
lebih tinggi yaitu sebesar
65,880%. - Pada jagung dengan
perlakuan tanpa
perendaman memiliki
nilai bioavailabilitas
paling kecil yaitu sebesar
39,818%.
Zat Besi dalam Tepung Ikan Gabus
Ikan gabus (Ophiocephalus striatus)
adalah salah satu bahan pangan sumber
protein hewani (Sari dkk., 2014). Protein
hewani memiliki mutu tinggi karena dapat
menyumbangkan asam amino esensial yang
lengkap dengan susunan yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh dan daya cerna protein
juga tinggi (Muchtadi, 2010). Ikan gabus
memiliki sifat yang mudah rusak dan busuk.
Pada penelitian tersebut ikan gabus diolah
menjadi tepung untuk pembuatan biskuit
sebagai sumber Zn dan Fe. Penepungan
adalah cara untuk mengatasi kerusakan pada
bahan pangan dan memperlama masa
simpan produk. Dalam bentuk tepung, ikan
dapat dengan mudah dimanfaatkan sebagai
bahan substitusi tepung terigu dalam
pembuatan biskuit sehingga menambah
nilai gizi produk. Pada tabel 1 di atas penelitian Sari
dkk. (2014) menunjukkan bahwa substitusi
tepung terigu dengan tepung ikan gabus dan
di fortifikasi Zn dan Fe tidak mempengaruhi
bioavailabilitas Zn dan Fe. Bioavailabilitas
Zn dan Fe pada fortifikasi sebesar 50%
AKG/serving size berturut-turut adalah
41.8% dan 76.32%.
Dari hasil analisis di atas penulis pada
artikel ini menentukan bahwa metode
analisis bioavailabilitas pada produk biskuit
dengan substitusi tepung ikan gabus di
fortifikasi Fe dan Zn cocok diterapkan
dalam penentuan tingkat penyerapan
mineral dalam tubuh. Hal ini didukung oleh
penelitian Lopez dkk., (2003) menunjukkan
bahwa bioavailabilitas Zn lebih tinggi
daripada bioavailabilitas Zn pada roti hasil
fortifikasi yang disubstitusi sebesar 13,5%.
Semakin tinggi jumlah mineral yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh dari
suatu bahan makanan maka bioavailabilitas
mineral semakin baik (Comb, 2012).
Membuktikan
bahwa
metode
bioavailabilitas dapat menentukan formula
biskuit yang paling baik untuk diterapkan
dalam memenuhi asupan mineral Zat besi
(Fe) dan Zink (Zn) pada tubuh, karena perlu
diketahui jumlah kandungan mineral dalam
bahan pangan sehingga diketahui berapa
banyak jumlah yang harus dikonsumsi untuk
memenuhi kecukupan atau kebutuhan
terhadap mineral per individu.
Kalsium dalam Tepung Ikan dan
Jagung
Kalsium adalah unsur terbanyak
penyusun di dalam tubuh manusia pada
urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per
berat tubuh (Trilaksani dkk., 2006). Kalsium
dapat diperoleh dari berbagai produk
pangan seperti dari susu, sayuran dan ikan.
Pada penelitian jurnal penelitian Trilaksani
dkk. (2006) menjelaskan bahwa produk
susu adalah sumber kalsium yang paling
direkomendasikan, namun harga susu bagi
masyarakat yang berpenghasilan menengah
ke bawah terbilang mahal. Perlu dicari
alternatif lain sebagai sumber kalsium yang
lebih murah dan mudah didapat.
Tepung tulang ikan tuna
Pangan hewani juga sebagai sumber
kalsium.
Salah
satu
yang
dapat
dimanfaatkan adalah limbah tulang ikan
Tuna dan kepala ikan lele dumbo yang
diformulasikan sebagai tepung. untuk sumber nabati dapat diperoleh dari pangan
jagung sebagai asupan kalsium untuk tubuh.
Pada tulang ikan, yang level
kalsiumnya sangat tinggi yaitu sebesar 39,24
% (39,24 g/100 g bahan) memiliki persentase
penyerapan sangat rendah hanya sebesar
0,86 %. Nilai penyerapan ini akan
meningkat sejalan dengan penurunan level
kalsium yang dalam hal ini dianggap sama
dengan asupan kalsium. Jika merujuk pada
kebutuhan harian kalsium yang harus
dipenuhi orang dewasa sekitar 800 mg/hari,
nilai penyerapan kalsium yang diperoleh
masih sangat kecil.
Berdasarkan data dari Trilaksani dkk
(2006), bioavailabilitas kalsium tepung
tulang ikan 0,86 % masuk kategori sangat
buruk, karena masih berada di bawah
penyerapan tidak optimum sekalipun (10 %).
Level penyerapan optimum menurut
Trilaksani dkk (2006) adalah sebesar 40 %,
sedangkan kategori cukup baik jika level
penyerapan kalsium dalam tubuh mencapai
20-30 %.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat
dikatakan bahwa penggunaan tepung tulang
ikan tuna sebagai sumber kalsium dalam
tubuh tidak optimal dengan pemanfaatan
tepung tulang secara langsung. Hal ini
diketahui
setelah melakukan analisis
bioavailabilitas pada tepung tulang ikan tuna.
Metode analisis bioavailabilitas sangat
cocok digunakan untuk mengetahui kualitas
kandungan gizi pada produk tepung tulang
ikan tuna sehingga dapat mengetahui seberapa banyak jumlah kalsium yang dapat
diserap oleh tubuh dari produk yang dibuat.
Tepung Kepala Ikan Lele Dumbo
Kalsium merupakan salah satu
mineral makro yang penting untuk
pembentukan tulang dan gigi yang normal.
Kalsium juga berperan dalam proses
pembekuan
darah,
kontraksi
otot,
metabolisme sel, dan mengirimkan isyarat
saraf ke sel (Bredbenner et al. 2007).
Crackers dengan tepung kepala ikan
lele sebanyak 12,5 gram mengandung 239,2
mg kalsium per takaran saji (44 g) dan dapat
berkontribusi terhadap kecukupan kalsium
remaja berdasarkan AKG 2004 sebesar 24%.
Penambahan kalsium dalam produk pangan
harus disertai dengan pengetahuan akan nilai
ketersediaan biologisnya (bioavailabilitas)
karena total kalsium yang tinggi dalam suatu
produk belum menjamin jumlah kalsium
yang diserap oleh tubuh yang tinggi pula
(Purwaningsih 2011).
Pada tabel 1 diatas penelitian
(Purwaningsih 2011) menunjukkan bahwa
bioavailabilitas kalsium crackers berkisar
antara 8,00% sampai dengan 17,40% basis
basah. Ketiga jenis crackers tersebut berbeda
secara nyata satu sama lainnya. Crackers
kontrol memiliki bioavailabilitas kalsium
yang lebih tinggi secara nyata dibandingkan
jenis crackers lainnya. Berdasarkan
pengelompokannya, crackers kontrol dan
crackers dengan tepung kepala ikan lele
dumbo memiliki bioavailabilitas kalsium
yang termasuk sedang, sedangkan crackers komersial memiliki bioavailabilitas yang
rendah.
Dari hasil analisis di atas pada artikel
ini menunjukkan bahwa metode analisis
bioavailabilitas pada produk crackers dengan
tepung ikan lele dumbo pada kalsium sangat
cocok digunakan dalam menentukan tepung
ikan yang mana baik digunakan pada
crackers
dan
memiliki
memiliki
bioavailabilitas kalsium. Hal ini didukung
pada penelitian Trilaksani et al. (2006)
menunjukkan crackers dengan tepung
kepala ikan lele dumbo dapat dijadikan
contoh produk turunan yang baik dari tepung
tulang ikan. Hal ini didasari karena
bioavailabilitasnya yang lebih tinggi jika
dibandingkan
dengan
bioavailabilitas
tepung tulang ikan tuna yang hanya
memiliki bioavailabilitas kalsium sebesar
0,86%. Membuktikan bahwa metode
bioavailabilitas dapat menentukan tepung
ikan yang paling baik untuk diterapkan
dalam membuat creckers untuk memenuhi
asupan mineral kalsium pada tubuh, karena
perlu diketahui jumlah kandungan mineral
dalam bahan pangan sehingga diketahui
berapa banyak jumlah yang harus
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan.
Bioavailabilitas pada jagung
Bioavailabilitas
dipengaruhi
oleh
pada
lamanya
jagung
proses
perendaman dan larutan yang digunakan
untuk merendam pangan jagung. Bahan
yang direndam selama 12 jam dalam 9%
asam sitrat memiliki nilai bioavailabilitas lebih besar (51,595) dibandingkan dengan
jagung
tanpa
perendaman (39,818).
Sementara jagung dengan perendaman 12
jam dalam asam sitrat 9% ditambah dengan
enzim fitase memiliki nilai bioavailabilitas
paling tinggi yaitu sebesar 56,880.
Dari hasil analisis bioavailabilitas
yang didapat maka diketahui bahwa analisis
bioavailabilitas secara in vitro ini kurang
cocok digunakan pada produk pangan
berupa jagung karena adanya penggunaan
senyawa kompleks fitat- mineral yang dapat
menurunkan bioavailabilitas kalsium (Ca)
karena fitat bersifat tidak larut.
KESIMPULAN
Hasil analisis nilai bioavailabilitas
pada formula biskuit adalah formula dengan
substitusi tepung ikan gabus dan fortifikasi
Fe dan Zn tertinggi adalah sebesar 50%
memiliki bioavailabilitas sebesar 76,32
untuk Fe dan 41,80 Zn. Hasil analisis tepung
tulang ikan tuna yang memiliki kadar
kalsium paling tinggi (39,24 %), yaitu
tepung tulang A2P3 dengan perlakuan 2 jam
lama waktu autoclaving dan 3 kali
perebusan. Persentase penyerapan tepung
kalsium tulang ikan yang diperoleh sebesar
0,86 % atau 337,46 mg/100 g tepung tulang
ikan. Hasil analisis Crackers dengan
Tepung Ikan Lele Dumbo, menunjukkan
bahwa bioavailabilitas kalsium pada
kelompok
kontrol
dan
kelompok
penambahan tepung kepala ikan lele dumbo sebanyak 12,5 termasuk kelompok sedang.
Sedangkanhasil analisis bioavailabilitas
pada jagung dilakukan secara in vitro
terhadap dua jenis perlakuan yakni
perlakuan perendaman selama 12 jam
menggunakan asam sitrat dan enzim fitase
memiliki bioavailabilitas lebih tinggi yaitu
sebesar 65,9%.
DAFTAR PUSTAKA
Azrimaidaliza, Resmiati, Famelia, W.,
Purnakarya, I., Firdaus, & Yasirly, K.
(2020). Buku Ajar Dasar Ilmu Gizi
Kesehatan Masyarakat. In Journal of
Chemical Information and Modeling
(Vol.
53,
Issue
9).
http://repo.unand.ac.id/38178/1/B
uku Ajar Dasar Ilmu Gizi Kesehatan
Masyarakat.pdf
Bielik, V., & Kolisek, M. (2021).
Bioaccessibility and bioavailability of
minerals in relation to a healthy gut
microbiome. International Journal of
Molecular
Sciences,
22(13).
https://doi.org/10.3390/ijms22136
803
Hardiansyah., & supariasa Nyoman. (2016).
Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi. Penerbit
buku Kedokteran. Jakarta
Sari, D. K., Marliyanti, S. A., Kustiyah, L.,
Khomsan, A., & Gantohe, T. M.
(2015). Bioavailabilitas Fortifikan,
Daya Cerna Protein, serta Kontribusi
Gizi Biskuit yang Ditambah Tepung
Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) dan
Difortifikasi
Seng
dan
Besi. Agritech, 34(4), 359-364.
Kurniawati, Y. R. (2021). Bioavailabilitas
mineral Ca (in vitro) pada jagung (Zea
mays L), dengan penambahan asam
sitrat dan Fitase Bacilus subtilis
HG. Jurnal Kesehatan Islam: Islamic
Health Journal, 10(1), 26-34.
Purwawinangsih, E. F. (2011). Secara in
vitro pada crackers dengan tepung
kepala ikan lele dumbo (clarias
gariepinus). repository.ipb.ac.id
Trilaksani, W., Salamah, E., & Nabil, M.
(2006). Pemanfaatan Limbah Tulang
Ikan Tuna (Thunnus Sp.) sebagai
Sumber Kalsium dengan Metode
Hidrolisis Protein. Jurnal Pengolahan
Hasil Perikanan Indonesia, 9(2), 34
45. https://doi.org/10.17844/jphpi.v9i
2.983

Komentar
Posting Komentar